Masih segar ingatan tentang Rabu petang 31 Desember 2008. Hujan turun deras, seperti biasanya jika tahun mendekati penghujung. Ketika itu untuk pertama kali “Jalan Kayu” sebagai tajuk diproklamirkan[i] ke hadapan publik.
Hall pameran sedikit membuat tercengang sebab di situ ikut dipajang batik-batik kain panjang, bagus-bagus. Tertata layaknya di sebuah galeri yang punya citarasa. Menyergapkan tentang yang-feminin, sabar, halus, dan indah.
Artwork yang menjadi maskot pameran malam itu menggelitikkan selintas dua imaji. Entah bagaimana membuatkan nama-nama yang mudah dan jelas untuk karya-karya tersebut sebab tak berbentuk seperti kerajinan, ukiran, atau patung. Gurat-gurat di atas lempengan dan glondongan kayu tampak seperti memantulkan imaji gelombang samudra. Atau malah gelombang pikiran dan mimpi?
Yang menakjubkan, sehelai ‘pakaian’ dipajang pada kapstok tinggi. ‘Pakaian’ yang sepenuhnya terbuat dari kayu. Kayu(!) bukan kulit kayu. Menunjukkan sesuatu yang (secara teknis) jujur dari seorang seniman yang tak mau berhenti bereksplorasi demi tanggung jawab pada ilmu yang pernah dia tuntut.
Last but not least, detik-detik menjelang peresmian dimulai, muncul di ruang pamer wajah-wajah yang tidak asing, para tukang dari bengkel kerja Barata Sena. Fantastis! Mereka ternyata diundang
menghadiri event pembukaan, sama seperti undangan lainnya! Untuk pertama kali kami menyaksikan hubungan emosional di balik hubungan kerja yang mendorong Barata Sena mengajak para tukangnya berjumpa publik. Tidak untuk ‘dipertontonkan’ melainkan untuk menonton pameran hasil karya yang telah dia dan para tukangnya gerakkan bersama-sama. Para tukang juga bercakap-cakap dengan sesama penonton, memberi keterangan yang valid sehubungan dengan proses kerja mereka.
menghadiri event pembukaan, sama seperti undangan lainnya! Untuk pertama kali kami menyaksikan hubungan emosional di balik hubungan kerja yang mendorong Barata Sena mengajak para tukangnya berjumpa publik. Tidak untuk ‘dipertontonkan’ melainkan untuk menonton pameran hasil karya yang telah dia dan para tukangnya gerakkan bersama-sama. Para tukang juga bercakap-cakap dengan sesama penonton, memberi keterangan yang valid sehubungan dengan proses kerja mereka.
Barata Sena membangun prosesnya tidak dalam bengkel kerja yang tertutup. Akan tetapi di tengah perkampungan yang terbuka, kampung Jajar, Surakarta. Di situ warga saling kenal dengan baik, tetangga-tetangga yang tinggal paling dekat dengan kediamannya bebas mengamati kesibukannya berkarya, bahkan saling menyapa dengannya kapanpun mereka mau. Bengkel kerja tersebut bertempat di tanah yang telah dimiliki sepanjang tiga generasi. Tentu saja sarat akan sejarah kehidupan yang (secara material) dirintis oleh sang kakek dan yang kemudian (secara spiritual) diberi makna oleh sang ayah.
Faktor lingkungan memungkinkan bagi dia untuk berlatih mengasah sikap welas asih (compassion). Pada mulanya welas asih tumbuh lantaran Barata Sena harus merawat ayah dan ibunya yang sakit-sakitan dalam waktu puluhan tahun hingga kemudian mereka almarhum. Dan dengan perantaraan tetangga, kerabat, serta teman yang sedang kesusahan yang selalu datang padanya menyampaikan keluhan ini atau itu, terdesak ini dan itu (mengharapkan bantuan finansial darinya) welas asih pun dikembangkan. Bahkan pesan terakhir dari sang ayah kepadanya tak lebih dari sebuah pesan tentang welas asih, “Kelak jadilah manusia yang gemar dan senang menanam kebajikan, memiliki welas asih, dan kemurahan hati.”
Ini menunjukkan bahwa pengalaman empiris membentuk karakter individu. Watak welas asih tidak dimiliki Barata Sena dengan serta-merta melainkan hasil dari latihan berpuluh tahun lewat realitas konkret “menemani” sang ayah yang sakit-sakitan. Semenjak duduk di bangku SMA Barata Sena terbiasa dan terlatih